SAYANGI IBUMU…..

Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus.
Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang
mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan
kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya.

Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan
cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan “sayang” ketimbang janji manis atau
bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk
anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia.

Tetapi terkadang janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu
dari mulut anak-anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada
menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu.

Ada sebuah fragmen yang cukup menarik, dikisahkan pada suatu ketika seorang
anak yang merasa sudah cukup sukses berucap janji kepada orang tua yang
tinggal satu-satunya; ibu yang sangat disayanginya. “Ibu, kalau sudah punya
cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu naik haji.” Ibunya tersenyum.
Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang
memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul
haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan
banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat
untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, “Semoga niat sucimu
terkabul, sayang.” Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu.

Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan
berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya
ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu
telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya
berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya.

Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah
diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori
oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan
janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang
bunda menunggu-nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji)
atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji
kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah
dalam diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji
untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa.

Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau,
karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya
yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak.
Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan.
Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak
memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan
uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses.
Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga
ibu yang diingkari janji itu.

Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari
janji untuknya? Hanya “mungkin” jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah
untuk semua anaknya; do’a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu
untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya.
Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya
untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu
menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya.

Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun
kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya,
kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit
jika tergores.
Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda.

Sayangi ibumu, ibumu, ibumu…

Published in: on Juni 10, 2010 at 9:04 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SABAR MENGHADAPI UJAN KEHIDUPAN

Setiap manusia pasti akan mengalami ujian, baik itu ujian berupa penderitaan dan kesengsaraan atau musibah, maupun ujian berupa kenikmatan dunia. Salah satu bekal terbaik untuk menghadapi ujian kehidupan adalah kesabaran.

Sabar membuat seseorang selalu merasa tenang dan tentram, hatinya selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah sehingga orang-orang yang sabar hidupnya selalu merasa berkecukupan. Dia tidak pernah meminta sesuatu yang bukan haknya.

Allah juga akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar berupa kenikmatan surga. Sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik (surga) dari apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S An-Nahl [16]:96).

Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Sabar adalah ketabahan hati dan tawakal dalam menjalani ujian kehidupan. Hidup adalah perjuangan yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari.(ton)

Published in: on Juni 10, 2010 at 9:02 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

PANGGUNG GEMBIRA 62009

Mungkin tulisan ini agak terlambat postingannya, karena acara PG sendiri tanggal 14/08 2008, tapi gak masalah daripada tidak samasekali.

“TECKNOLOGI DAN HAKEKAT RUBUBIYAH”

Itulah tema dan misi Pagelaran Seni Panggung Gembira (PG) yang diusung oleh siswa akhir Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Daar el-Azhar  tahun 2008-2009.
Acara PG merupakan acara wajib dan rutin tahunan bagi siswa akhir KMI sebagai bentuk pengenalan Pondok sekaligus penutup rentetan kegiatan acara Pekan Perkanalan Kutbatul Arsy. Jadi ditekankan oleh pimpinan pondok bahwa ini bukanlah acara komersial tapi pendidikan. Itulah totalit PMDA. Pendidikan tidak hanya dalam bentuk ilmu pelajaran formal di kelas, tetapi lebih dari itu berupa kultur yang dibentuk oleh pondok, salah satunya pagelaran seni Panggung Gembira. Banyak hal yang didapat dari PG, totalitas dan loyalitas santri tentunya tidak diragukan lagi untuk mengeksplor bakat serta seni demi suksesnya acara tersebut.

Pada PG tahun ini banyak terdapat acara baru yang sebelumnya belum pernah ada, sebut saja PEMBUKAAN, Marawis dan Sinden Gosip. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri Sinden Gosip selalu mendapatkan perhatian lebih dari penonton. Secara umum PG tahun ini berjalan sukses dan lancar bahkan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya PG tahun ini tidak diguyur hujan.

Published in: on Juni 10, 2010 at 8:51 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

DRAMA ARENA

DRAMA ARENA 52008

Terhampar disini jalani hidup bersama

tanpa terasa ribuan kenangan telah berlalu

tersenyum dan tertawa hilang semua kepedihan

dan waktu memaksa tinggalkan semua impian….

untuk semua bintang dan semua senyuman

yang terpancar indah tanda sebuah kasih sayang,

dan semua kenangan yang kita lakukan takkan mungkin terlupakan….

Published in: on Juni 10, 2010 at 8:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.